Sabtu, 16 Juni 2012

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari PMKRI)

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia disingkat (PMKRI) merupakan Organisasi Kepemudaan (OKP) Katolik yang berfungsi sebagai organisasi pembinaan dan organisasi perjuangan mahasiswa katolik (juga bukan katolik) yang berazaskan Pancasila, dijiwai kekatolikan, dan disemangati kemahasiswaan.
Ditetapkan berdiri pada 25 Mei 1947. Namun demikian cikal bakal organisasi ini telah lahir jauh sebelumnya yakni saat berdirinya KSV Sanctus Bellarminus, Batavia (didirikan di Jakarta, 10 November 1928), KSV Sanctus Thomas Aquinas Bandung (didirikan di Bandung, 14 Desember 1947), dan KSV Sanctus Lucas Surabaya (didirikan di Surabaya, 12 Desember 1948).


Sejarah PMKRI

Federasi KSV

Katholieke Studenten Vereniging (KSV)sebagai Organisasi Mahasiswa Katolik telah berdiri di beberapa daerah berturut-turut :
Selanjutnya tahun 1949 dibentuk Federasi KSV yang diketuai oleh Gan Keng Soei (KS Gani) dan Ouw Jong Peng Koen (PK Ojong).

Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI Yogyakarta)

Adapun PMKRI Yogyakarta yang pertama kali diketuai oleh St. Munadjat Danusaputro, didirikan pada tanggal 25 Mei 1947.

Fusi 11 Juni 1950 (Konggres I)

Keinginan Federasi KSV untuk berfusi dengan Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Yogyakarta saat itu, karena pada pertemuan antar KSV di penghujung 1949, dihasilkan keputusan bersama bahwa “….Kita bukan hanya mahasiswa Katolik, tetapi juga mahasiswa Katolik Indonesia ..." Federasi akhirnya mengutus Gan Keng Soei (KS Gani) dan Ouw Jong Peng Koen (PK Ojong) untuk mengadakan pertemuan dengan moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta.
Setelah mendapat saran dan berkat dari Vikaris Apostolik Batavia yang pro Indonesia, yaitu Mgr. Peter J Willekens SJ, utusan Federasi KSV (kecuali Ouw Jong Peng Koen yang batal hadir karena sakit) bertemu dengan moderator pada tanggal 18 Oktober 1950. Pertemuan dengan Ketua PMKRI Yogyakarta saat itu, yaitu PK Haryasudirja, bersama stafnya berlangsung sehari kemudian. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut intinya wakil federasi KSV yaitu Gan Keng Soei mengajak dan membahas keinginan ”Mengapa kita tidak berhimpun saja dalam satu wadah organisasi nasional mahasiswa Katolik Indonesia? Toh selain sebagai mahasiswa Katolik, kita semua adalah mahasiswa Katolik Indonesia. “
Maksud Federasi KSV ini mendapat tanggapan positif moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta. Dan dari pertemuan itu dihasilkan dua keputusan lain yaitu :
  • Setelah pertemuan tersebut, masing-masing organisasi harus mengadakan kongres untuk membahas rencana fusi.
  • Kongres Gabungan antara Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta akan berlangsung di Yogyakarta tanggal 9 Juni 1951.
Dalam kongres gabungan tanggal 9 Juni 1951, kongres dibuka secara resmi oleh PK Haryasudirja selaku wakil PMKRI Yogyakarta bersama Gan Keng Soei yang mewakili Federasi KSV. Diluar dugaan, Kongres yang semula direncanakan berlangsung hanya sehari, ternyata berjalan alot terutama dalam pembahasan satu topik, yakni penetapan tanggal berdirinya PMKRI.
Di saat belum menemui kesepakatan, Kongres Gabungan sempat diskors untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing organisasi untuk kembali mengadakan kongres secara terpisah pada tanggal 10 Juni 1951. Akhirnya Kongres Gabungan untuk fusi-pun kembali digelar pada tanggal 11 Juni 1951 dan berhasil menghasilkan 14 keputusan.[1]
Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta berfusi menjadi satu sebagai organisasi nasional mahasiswa katolik bernama ”Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia” yang kemudian disingkat PMKRI. Sebutan perhimpunan ini disepakati sebagai pertimbangan agar organisasi baru ini sudah bersiap-siap untuk mau dan mampu menampung masuk dan menyatunya organisasi-organisasi mahasiswa Katolik lain yang telah berdiri berlandaskan asas dan landasan lain, seperti KSV-KSV di daerah-daerah pendudukan Belanda guna menuju persatuan dan kesatuan Indonesia.
Dasar pedoman (AD/Anggaran Dasar) PMKRI Yogyakarta diterima sebagai AD sementara PMKRI hingga ditetapkannya AD PMKRI yang definitif.
Keputusan - keputusan yang dihasilkan pada waktu itu :
  1. PMKRI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 25 Mei 1947.
  2. PMKRI berkedudukan di tempat kedudukan Pengurus Pusat PMKRI.
  3. Empat cabang pertama PMKRI adalah : PMKRI Cabang Yogyakarta, PMKRI Cabang Bandung, PMKRI Cabang Jakarta, dan PMKRI Cabang Surabaya.
  4. Dalam ART setiap Cabang PMKRI harus dicantumkan kalimat,”PMKRI berasal dari Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta yang berfusi tanggal 11 Juni 1951
  5. Santo pelindung PMKRI adalah Sanctus Thomas Aquinas
  6. Semboyan PMKRI adalah “Religio Omnium Scientiarum Anima” yang artinya Agama adalah jiwa segala ilmu pengetahuan.
  7. Baret PMKRI berwarna merah ungu (marun), dengan bol kuning di atasnya.
  8. Kongres fusi ini selanjutnya disebut sebagai Kongres I PMKRI.
  9. Kongres II PMKRI akan dilangsungkan di Surabaya, paling lambat sebelum akhir Desember 1952 dan PMKRI Cabang Surabaya sebagai tuan rumahnya.
  10. Masa kepengurusan PMKRI adalah satu tahun, dengan catatan: untuk periode 1951-1952 berlangsung hingga diselenggarakannya Kongres II PMKRI.
  11. PP PMKRI terpilih segera mendirikan cabang-cabang baru PMKRI diseluruh Indonesia dan mengenai hal ini perlu dikoordinasikan dengan pimpinan Waligereja Indonesia.
  12. PK Haryasudirja secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Umum PP PMKRI periode 1951-1952.
Dengan keputusan itu maka kelahiran PMKRI yang ditetapkan pada tanggal 25 Mei 1947 menjadi acuan tempat PMKRI berdiri. PMKRI didirikan di Balai Pertemuan Gereja Katolik Kotabaru Yogyakarta di jalan Margokridonggo (saat ini Jln. Abubakar Ali). Balai pertemuan tersebut sekarang bernama Gedung Widya Mandala.
Penentuan tanggal 25 Mei 1947 yang bertepatan sebagai hari Pantekosta, sebagai hari lahirnya PMKRI, tidak bisa dilepaskan dari jasa Mgr. Albertus Soegijapranata. Atas saran beliaulah tanggal itu dipilih dan akhirnya disepakati para pendiri PMKRI, setelah sejak Desember 1946 proses penentuan tanggal kelahiran belum menemui hasil. Alasan beliau menetapkan tanggal tersebut adalah sebagai simbol turunnya roh ketiga dari Tri Tunggal Maha Kudus yaitu Roh Kudus kepada para mahasiswa katolik untuk berkumpul dan berjuang dengan landasan ajaran agama Katolik, membela, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengurus Pusat PMKRI

PMKRI PUSAT
Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) adalah badan eksekutif PMKRI di level nasional yang bertugas mengkoordinir (mengurus) Cabang PMKRI berikut Calon Cabang PMKRI dan Kota Jajakan PMKRI. Lebih dari itu, PP PMKRI menjadi representasi organisasi dalam hubungan ekternal kekatolikan maupun internal kekatolikan, baik di dalam maupun di luar negeri.Sejatinya, PP PMKRI bukan supra struktur dari DPC PMKRI (Cabang PMKRI), melainkan primus inter pares.
Berikut ini adalah nama-nama pengurus pusat PMKRI, yaitu:[rujukan?]
  • 1951 Yogyakarta I - PK.Hardjasudirdja
  • 1952 Surabaya II - FX. Sudiono
  • 1953 Jakarta III - Anton Moeliono
  • 1954 Bandung IV - Wisanto Haryadi
  • 1955 Yogyakarta V - C.Koentoro
  • 1956 Surabaya VI - FX.Surjanto
  • 1957 Jakarta VII - BS. Muljana
  • 1958 Bandung - I BS.Muljana
  • 1959 Semarang VIII /II A.Hadyana P
  • 1960 Malang - III A.Ben Mboi
  • 1961 Yogyakarta IX/ IV Harry Tjan Silalahi
  • 1962 Surabaya - V Harimurti K
  • 1963 Jakarta - VI Cosmas Batubara
  • 1964 Malang X /VII Cosmas Batubara
  • 1967 Bandung - VIII Savrinus Suardi
  • 1969 Surabaya XI/ IX J Max Wayong
  • 1971 Surakarta XII /X Chris Siner Key Timu
  • 1975 Semarang XIII/ XI Chris Siner Key Timu
  • 1977 Malang XIV/ XII Wem Kaunang
  • 1981 Jakarta - XIII Marcus Mali
  • 1985 Jakarta XV /XIV Paulus Januar
  • 1988 Surabaya XVI /XV Gaudens Wodar
  • 1990 U.Pandang XVII /XVI Cyrillus I Kerong
  • 1992 Bandung XVIII /XVII Leonardo Renyut
  • 1994 Medan XIX/ XVIII Antonius Doni
  • 1996 Malang XX/ XIX I Riza Primahendra
  • 1998 Banjarmasin XXI /XX Ign. Kikin P Tarigan S
  • 2000 Jakarta XXII /XXI Robert JE. Nalenan
  • 2002 Kupang XXIII /XXII Maria Restu Hapsari
  • 2004 Manado XXIV /XXIII Emmanuel Josafat Tular
  • 2006 Jayapura XXV/ XXIV (Demisioner, Tidak menetapkan Ketua Presidium)
  • 2008 Jogjakarta XXVI/ XXV Tri Adi Sumbogo
  • 2012 Medan Istimewa/XXVI Yohannes Sahat

Bintang Sanctus Thomas Aquinas

Kepada tokoh-tokoh PMKRI (juga bukan PMKRI) yang berjasa kepada organisasi diberikan penghargaan Bintang Sanctus Thomas Aquinas. Pengusulan dan penetapaan dilakukan dalam Sidang MPA, dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PP PMKRI.
Beberapa penerima Bintang Jasa Sanctus Thomas Aquinas :
  1. St.Munadjat Danusaputro (MPA Malang, 1996)
  2. Bung Kanis Pairera (MPA Malang, 1996)
  3. Mgr. Albertus Soegijapranata (MPA Banjarmasin, 1998)
  4. PK Ojong (MPA Banjarmasin, 1998)

 PMKRI Cabang Yogyakarta

PMKRI Sanctus Thomas Aquinas
PMKRI Cabang Yogyakarta
PMKRI Cabang Yogyakarta didirikan pada tanggal 25 Mei 1947 dengan nama PERSERIKATAN MAHASISWA KATOLIK REPUBLIK INDONESIA. Terpilih sebagai ketua pertama St. Munadjat Danusaputro. Santo Pelindung : "St. Thomas Aquinas"
Ketua-Ketua Presidium PMKRI Yogyakarta :
  1. 1947 - 1950 : St. Munadjat Danusaputro
  2. 1950 – 1951 : P.K. Harjasudirdja
  3. 1951 – 1952 : E. Dulkahar
  4. 1953 – 1954 : F.X. Sudijana
  5. 1954 – 1955 : A. Marwoto
  6. 1955 – 1956 : V.B. da Costa
  7. 1956 – 1957 : A. Moegijono
  8. 1957 – 1959 : J.B. Moerdopo
  9. 1959 – 1961 : F.X. Bambang Ismawan
 10. 1961 – 1962 : A.J. Sadewa
 11. 1962 – 1963 : J. Soedradjat Djiwandono
 12. 1963 – 1964 : A. Soemantri Hardjojuwono
 13. 1964 – 1966 : R.J.B. Soehendrodjati
 14. 1966 – 1968 : Ign. Suluh Darmadji
 15. 1968 – 1969 : Rudolf Pamor
 16. 1969 – 1970 : Jos Soenaryo
 17. 1970 – 1971 : R. Soelistyo
 18. 1971 – 1972 : Gaspar P. Ehok
 19. 1972 – 1973 : M. Pri Hendratmoko
 20. 1973 – 1974 : H.J. Soedanasto
 21. 1975 – 1976 : A. Soesanto
 22. 1976 – 1977 : Nobertus Jerabu
 23. 1977 – 1979 : Lukas Suryanto Isp.
 24. 1979 – 1981 : Betti Endang Triworo
 25. 1981 – 1983 : Benedictus Osok
 26. 1983 – 1984 : Ign. Suryanjono
 27. 1984 – 1985 : Kastorius Clement Sinaga
 28. 1985 – 1986 : C. Eliasta Karo-karo
 29. 1986 – 1989 : Hendrikus T. Sasminto
 30. 1989 - 1990 : T. Satrio Nugroho
 31. 1990 - 1992 : Ferdinand Leo
 32. 1992 - 1993 : B. Budi Wibowo
 33. 1993 - 1995 : Hamonangan O. Pandiangan
 34. 1995 - 1996 : Fransiskus Paulus Paskalis Abi
 35. 1996 - 1998 : Sylvester Lahi
 36. 1998 - 1999 : Setyo Budiantoro
 37. 1999 - 2000 : Natalia CAW
 38. 2000 - 2001 : Alvonsius Baba Lolon
 39. 2001 - 2002 : Elias Dabur
 40. 2002 - 2004 : Fulton Brato
 41. 2004 - 2006 : Ign. Dwiana
 42. 2006 -  : Reynold Lumi

PMKRI Cabang Samarinda

PMKRI Cabang Samarinda dengan status calon cabang setelah PP PMKRI mengadakan Masa Orentasi Calon Anggota PMKRI Angkatan I pada tanggal 24-28 Februari 1994. Sembilan bulan kemudian tepatnya pada tanggal 23 November 1994 status calon cabang diresmikan menjadi cabang penuh dalam sidang MPA-XVIII melalui TAP MPA No 03/TAP/MPA-XVIII/1994 di Medan Sumatera Utara.
Hari Berdirinya PMKRI Cabang Samarinda: Diperingati pada tanggal 28 Februari 1994
Santo Pelindung PMKRI Cabang Samarinda: Santo Ignasius Loyola
  • Kapres: Paulus Kadok / Sekjen: Kamilius Tegun (periode tahun 1994-1995)
  • Kapres: Kamilius Tegun / Sekjen: Simawati (periode tahun 1995-1997)
  • Kapres: Hendra Nata / Sekjen: Yordanus Dani (periode tahun 1996-1997)
  • Kapres: Benidiktus Maniek D / Sekjen: Antonius Maniek P (periode tahun 1997-1998)
  • Kapres: Hendrikus Hayon / Sekjen: Fransiskus Pasila (periode tahun 1998-1999)
  • Kapres: Reginus Tarang N / Sekjen: G Thomas Irenius (periode tahun 1999-2001)
  • Kapres: Natalis Bambang Untoro / Sekjen: Theresia Hilda Kayani (periode tahun 2001-2002)
  • Kapres: Brigitha Edna / Sekjen: Kornelis Kladu Maran (periode tahun 2002-2003)
  • Kapres: Jansensius D Hurin / Sekjen: Yohanes Syukur (periode tahun 2003-2004)
  • Kapres: Sadikin / Sekjen: Kornelis Kladu Maran (periode tahun 2004-2005)
  • Kapres: Yohanes Syukur / Sekjen: Mendan Ala (periode tahun 2005-2006)
LATAR BELAKANG
Sekitar tahun 1959 - 1963, Dewan Pimpinan Cabang PMKRI Jakarta telah merasakan perlu adanya pembentukan Rayon, karena perkembangan anggotanya yang cukup pesat dan tempat fasilitas yang kurang. Akhirnya tahun 1963, PMKRI Jakarta dibagi atas 5 Rayon (Marga I Menteng, Marga II Mangga Besar, Marga III Jatinegara, Marga IV Petojo, dan Marga V Kebayoran). Pada saat itu Rayon Petojo belum mempunyai sekretariat tetap, masih menumpang di rumah salah seorang anggotanya yang tinggal di Petojo Selatan. Sedangkan untuk menjalankan kegiatan yang diinstruksikan dari Cabang para anggotanya berkumpul di gedung SD Tarsisius sebulan sekali. Cakupan wilayah PMKRI Petojo saat itu meliputi daerah; Grogol dan sekitarnya, Tanah Abang, dan berpusat di Petojo. Baru pada tahun 1965 melalui perjuangan panjang Anggota, dan Senior, serta bantuan dari Keuskupan Agung Jakarta akhirnya Rayon Petojo memiliki gedung Sekretariat tetap hingga saat ini, yakni di Jl. Tanah Abang I/25 B Jakarta Pusat. Gedung Sekretariat diberkati oleh uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto,SJ pada tanggal 13 Agustus 1965, yang kemudian terus diperingati sebagai HUT Marga Petojo
BADAN SEMI OTONOMI
1. Buletin
Pada tahun yang sama, untuk pertamakalinya terbit Bulletin intern yang diberi nama PETOGROTA yang merupakan kependekan dari PETOJO, Grogol, Tanah Abang, ide awal ini disponsori oleh “Peter Zagita” tujuan Bulletin ini adalah sebagai sarana komunikasi antar anggota.
2.Poliklinik Umum.
Dalam perkembangannya kemudian PMKRI Rayon Petojo mendirikan Poliklinik Umum pada tahun 1970, yang bertujuan untuk membantu dan menambah ketrampilan anggota dalam menjadi sarjana paripurna, serta membantu masyarakat sekitar Marga Petojo. Pada 30 Agustus 1977, Poliklinik Umum mengadakan praktek yang pertamakalinya, sekaligus peresmian beroperasinya Poliklinik Umum di bawah pimpinan dr.Tedjo Handoyo. Saat ini Poliklinik Umum Margasiswa IV sudah tidak ada seiring dengan hilangnya perkampungan disekitar Margasiswa IV dan tidak dilakukannya regenerasi dokter praktek.
3. Poliklinik Gigi.
Tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 21 Januari 1980 didirikan Poliklinik Gigi, yang merupakan perluasan dari Poliklinik Umum, di bawah tanggung jawab drg.Mira Wisendha, Klinik Gigi bertujuan untuk meciptakan dokter – dokter yang handal dan profesional dalam bidangnya, disamping turut memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu.
4. Marga Siswa
Gedung sekretariat Rayon Petojo kesekian puluh tahun secara fisik tidak pernah dirawat ataupun bila pernah dirawat/ renovasi hanya bersifat sementara / tambal sulam. Melihat kondisi Gedung tua yang banyak mengalami kerusakan dimakan usia, maka Badan Pengurus periode 2001 –2002 dan juga bantuan Alumni mengusulkan Proposal Renovasi Gedung ke Yayasan Margasiswa [Bpk. Charles Mangun], juga ke Keuskupan Agung Jakarta [u/p Ekonom KAJ Rm. S.Roy Djakarya,Pr] akhirnya mendapat persetujuan Renovasi Tahap I dengan bantuan Dana KAJ sebesar Rp50.000.000.- [ Lima Puluh Juta Rupiah ], sedangkan Renovasi Tahap II berupa peninggian Lantai mendapatkan dana dari Alumni Petojo sebanyak 16. 000.000.- [Enam Belas Juta Rupiah], selain itu juga mendapatkan sumbangan Keramik lantai dari Ezzensa sebanyak 500 M Kubik. Pelaksanaan Renovasi dimulai pada 15 Februari 2002, dengan kontraktor yang juga mantan Ketua BP PMKRI Petojo Tahun 70-an Bpk Alex Julianto sementara Badan Pengurus dan Alumni bertindak sebagai pengawas. Marga Siswa merupakan kepanjangtangan dari Yayasan Marga Siswa, bertugas untuk hal–hal yang berhubungan dengan penggunaan fasilitas margasiswa IV. Adapun tujuan penampungan para mahasiwa adalah penampungan sementara yang datang dari daerah untuk pertama kali yang secara finansial tidak mencukupi, setelah itu boleh mencari pemondokan sendiri. Penampungan ini khusus untuk anggota PMKRI yang masih aktif sebagai Mahasiswa.
PERKEMBANGAN
Secara umum, kepengurusan PMKRI Rayon Petojo sejak awal berdirinya [1965] hingga tahun 90–an berjalan baik dari segi pembinaan, kaderisasi maupun proses suksesi kepemimpinan. Semangat ini menurun drastis dan mencapai klimaksnya pada tahun 1996-2000. Hampir lebih kurang dalam kurun waktu 4 [empat] tahun terjadi Kevakuman Badan Pengurus PMKRI Rayon Petojo. Ini berimbas pada: tidak adanya Regenerasi, juga semua pembinaan Formal PMKRI berhenti dengan sendirinya. Pada awal tahun 2000 atas inisiatif beberapa rekan senior yang masih peduli pada PMKRI Petojo diantaranya Sdr. Christopher Nugroho, Sdr. Ferry Chandra Kusuma, Sdr. Stanley W. da Lopez yang komit untuk membangun kembali / menghidupkan Rayon Petojo dengan Paradigma baru. Usaha ini mendapat dukungan dari DPC PMKRI Cabang Jakarta dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Nomor:IST/ DPC / I – F / 01 tertanggal 8 November 2001 Tentang: Pengangkatan Sdr. Stanley W. da Lopez sebagai Pejabat Ketua Umum Badan Pengurus PMKRI Rayon Petojo periode 2001 – 2002 dengan tugas utama Revitalisasi PMKRI Cabang DKI Jakarta Rayon Petojo.
BADAN PENGURUS
Ketua Umum / Sekretaris Umum / Periode
Aloysius Irwan Machdy (Almarhum)/ Rudy K. / 1965 - 1966
Rudy Kartadinata / Lilian S. / 1966 - 1967
Lilian Sundari / Laurentius K. / 1967 - 1968
Threes Iswari / Wahyudi Firmasyah / 1968 - 1969
Wahyudi Firmansyah / Anton Djawardi / 1969 - 1970
Anton Djawardi / Michael D.Chandra (Almarhum)/ 1970 - 1971
Michael D. Chandra W. (Almarhum)/ Alex Julianto / 1971 - 1972
Pepen Danuadmaja / Andreas T.H. / 1972 - 1973
Alex Julianto / Ferry Lumanauw / 1973 - 1974
Dr Tedjo Handojo / Thomas Hardi Pranoto / 1974 - 1975
Tjahjadi Lukiman / Frans Wijaya / 1975 - 1976
Paulus Andi / Petrus T.D. / 1976 - 1977
FX. Roy Gunawan / Budi Prasetia / 1977 - 1978
Sernawan Ternadi / G. Sandjaja Sentosa / 1978 - 1979
Danny Lim / Jahja Suryawidjaja / 1980 - 1981
Wilhelmus Wallong / Ign. Michael Tedja / 1981 - 1982
Rudy Sugiarto / Samuel Abadi / 1982 - 1983
Ferdy Joseph / Antonius HD. / 1983 - 1984
Hans Suryono / A.M Kurniawan C. / 1984 - 1985
A.Andy Haryoko / Teguh Prawira / 1985 - 1986
Michael Tjan / Hendi Budi / 1986 - 1987
Fransiskus Ferry Anwar / Michael I.Chayono G / 1987 - 1988
Adrianus Andre Purnadi / Christian Marcel / 1988 - 1989
Franky Limanto / Susana Sentosa SE/ 1989 - 1990
Suryadi Taslim / Tomas Nusanto / 1991 - 1992
Thomas Nusanto / Pang Chung Hian (Almarhum)/ 1992 - 1993
Yenni Salean / Harry / 1993 - 1994
Pang Chung Hian (Almarhum)/ Linah B / 1994 - 1995
Christopher Nugroho / Surendro Djati / 1995 - 1996
Eduardus S. Abun / Yustin / 1996 - 1997
FX. Wendie Sastranegara / M. I. Febryanti / 1997 - 1998
Stanley W. / Vincentius Ferry Chandra / 2001 - 2003
Eric Hartanuh / 2003-2004
Pieter Muliawan / Daniel Oyong / 2004-2005
Eka P. S. / 2005-2006
Gerardus N. M. / 2006-2007 -->
PMKRI SANCTUS ALBERTUS MAGNUS Makassar

  Sumber: Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/PMKRI

Rabu, 06 Juni 2012

Yubileum ke-75 Tahun Gereja Lokal Keuskupan Agung Makassar n Karya CICM di Indonesia

10 ribu umat Katolik membanjiri perayaan puncak Yubileum ke-75 Tahun Gereja Lokal Keuskupan Agung Makassar (KAMS) di Celebes Convention Centre (CCC), Tanjung Bunga Makassar, umat Katolik berasal dari gereja di bawah naungan KAMS yang meliputi tiga provinsi yakni Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Barat (Sulbar), dan Sulawesi Tenggara (Sultra).





Hadir Uskup Agung KAMS Mgr Dr John Liku-Ada' dan ketua steering comitte (SC) Pastor Paulus Tongli. Pastor Paulus menjelaskan perayaan ini akan diawali dengan misa agung dengan selebran utama dari Duta Besar Vatican untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi. “Hadir pula sejumlah uskup dari seluruh Indonesia dan para imam, Bapak Gubernur Sulawesi Selatan DR.H. Syahrul Yasin Limpo, SH,M.Si,MH, Bapak Walikota Makassar,  Ir.Ilham Arief Sirajuddin A.K.A, pejabat, dan umat katoik 



Perayaan puncak Yubileum ini akan diputar film dan drama teatrikal tentang perjuangan serta perjalanan KAMS dari tahun 1937 hingga saat ini. Selain itu, akan diluncurkan buku tentang sejarah singkat gereja lokal KAMS dengan judul Kenangan 75 Tahun Yubileum. Pada acara ini, hymne KAMS karya budayawan Sulsel, Ishak Ngeljaratan untuk pertama kalinya akan dinyanyikan. Acara tersebut akan ditutup dengan malam ramah tama








PROM NITE SMA KATOLIK RAJAWALI MAKSSAR


Hadirkan Alumni Pejabat Terbanyak, Cetak Rekor MURI

Novra/Fajar

REKOR. Perwakilan MURI menyerahkan penghargaan rekor MURI kepada Kepala Sekolah.MAKASSAR, FAJAR  -- Acara Prom Nite Chara (SMA Katolik Rajawali) kembali digelar. Kali ini panitia mengusung tema Fairy Land "Fairy Tale and Wonderland" yang kental dengan nuansa Negeri Impian. Kegiatan yang berlangsung Sabtu malam 19 Mei, sukses besar.

Inilah Prom Nite terakbar SMA Chara. Tidak hanya dihadiri alumni terbanyak dan rata-rata adalah pejabat, Prom Nite kali ini juga mendapatkan penghargaan Rekor MURI. Prom Nite berlangsung meriah di SMA Katolik Rajawali dengan judul Make it Last Forever. Acara tersebut memang berhasil membuat pengunjung dan pelajar terkesan.

Selain venue megah dan berbagai variasi acara menarik, Chara juga mencetak rekor dan mendapat penghargaan dari MURI karena menghadirkan alumni pejabat pemerintah terbanyak.

Bak artis yang jalan di red carpet, siswa menampilkan fashion terbanyak. Tak hanya itu, acara tersebut  juga dimeriahkan oleh penampilan band, boyband, girlband sekolah, DJ, Rajawali Award, dan pemberian penghargaan dari Design Centre untuk siswa Chara berprestasi yang bakal diberangkatkan ke Kanada.

Micky, ketua OSIS Chara menjelaskan, Prom Nite makin seru ketika siswa menuliskan harapan-harapan mereka di dalam balon yang dilepaskan ke udara. Para siswa juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para guru dengan menjabat tangan para guru dan kepala sekolah dan sesama teman di akhir acara. (nurul-rk6)



REUNI AKBAR SMAKCEND - SMAKARA MAKASSAR - Anak Sekolah Chrisye

REUNI BERSAMA ALUMNI SMAK RAJAWALI & SMAK CENDERAWASIH MAKASSAR



Tanggal 5 Mei 2012 Alumni SMA Katolik Rajawali Makassar dan Alumni SMA Katolik Cenderawasih Makassar menyelenggarakan Reuni Bersama di Hotel Grand Manhattan Borobudur Jakarta. Dihadiri seribu alumni semua angkatan dari SMAK Rajawali Makassar dan SMAK Cenderawasih Makassar dari berbagai kota.  Bapak Gubernur Sulawesi Selatan DR.H. Syahrul Yasin Limpo, SH,M.Si,MH; Bapak ketua MA Hatta Ali, Bapak Ketua KPK Abraham Samad; Ketua Badan Narkotika Nasional Gorries Mer.e; Rektor Universitas Hasannudin Makassar Prof.Dr.dr.Idrus A Paturusi, Praktisi Hukum Otje Kaligis; Denny Kailimang

Acara reuni di dahului dengan temu bisnis alumni SMAK Rajawali Makassar dan SMAK Cenderawasih Makassar, dilanjut dengan acara welcome dinner dan hiburan. Tampil group band yang tak asing lagi Koes Plus. Penyerahan penghargaan Record MURI alumni yang terbanyak menjadi pejabat negara.


Reuni telah berlalu, kini tinggal kenangan indah. Mungkin masih ada yang larut dalam rasa bangga atas penyerahan penghargaan Record MURI pada tanggal 5 Mei 2012 yang lalu. Tak ada salahnya merasa bangga atas penyerahan Record MURI tersebut. Sekarang tersimpan pertanyaan, apa kelanjutan dari reuni bersama yang lalu? Bertemu teman lama yang sudah lama tidak bertemu, bercanda, tertawa ha ha hi hi dengan teman2 semasa di SMA doeloe, terkenang suksesnya dan bagusnya acara saat reuni ... dstnya, lalu tak ada lagi kelanjutannya. Sayang bila itu terjadi. Lalu ? 

Apa Tujuan Reuni sesungguhnya.
Tujuan Reuni tidak tercapai, jika reuni hanya sekedar bertemu teman lama, ha ha hi hi ... dstnya. Alangkah indahnya jika Reuni diarahkan ke hubungan antar alumni, dan hubungan alumni dengan almamater. Hubungan antar Alumni yakni terajutnya hubungan ikatan batin dan emosional antar alumni, sebab tidak semua alumni berhasil dan sukses dalam mengolah hidup, bagaimana alumni dalam sehari-harinya saling berbagi suka dan duka, saling menyapa dan mengenal.  Hubungan alumni dengan almamater, setelah lulus dari sekolahan tidak berarti bahwa ikatan emosional alumni dengan almamater terputus. Ikatan emosional alumni dengan almamater sesungguhnya tetap terajut erat. Almamater membutuhkan dukungan  alumnus-alumnusnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.






Sup Tom Yam Kung



Bahan-bahan:
Bahan :
250 gr udang segar ukuran sedang
75 gr jamur merang, belah dua
1 sdm minyak goreng

Bumbu I :
100 gr tomat, iris, buang bijinya
2 ruas lengkuas, memarkan
1 lembar daun jeruk
1 batang daun ketumbar
1 batang serai, memarkan, iris tipis
1 buah cabe merah, buang bijinya, iris tipis
1 buah cabe hijau, buang bijinya, iris tipis
500 ml kaldu


Bumbu II :
1 sdm kecap ikan
1 sdm air jeruk nipis
2 sdm saus sambal (Bisa ditambahkan lagi jika suka sup yang pedas)
½ sdm gula pasir
garam secukupnya

Cara Memasak
1. Kupas udang, sisakan ekornya, kerat punggungnya dan bersihkan. Sisihkan kepala dan kulit udang tadi.
2. Panaskan minyak goreng, lalu masukkan kepala dan kulit udang, tumis hingga merah.
3. Tambahkan bumbu I ke dalam tumisan kepala dan kulit udang tadi. Didihkan dan masak selama 20 menit.
4. Saring ampas kuah udang tadi dan sisakan kaldunya. Kemudian masukkan bumbu II, didihkan selama 5 menit. Setelah itu masukkan jamur dan udang, aduk rata dan masak sampai matang. Angkat dan sajikan.